KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – tidak hanya berdampak pada hubungan suami-istri, tapi juga pada anak.

Dampak orangtua yang ini bisa dialami anak dengan berbagai rentang usia, mulai dari balita sampai dia dewasa.

Bahkan tak cuma meninggalkan luka, mengetahui orangtuanya selingkuh juga dapat memengaruhi hubungan romantisnya di masa mendatang.

Dampak pada anak saat orangtua selingkuh

Di tengah masalah yang sedang menerpa, para orangtua harus mengingat bahwa si buah hati juga membutuhkan sosok orangtua yang mendampinginya.

Pastikan masalah dan konflik akibat pasangan yang tidak bergulir hingga menimbulkan masalah lain yang lebih rumit.

Melansir laman Romper, berikut delapan dampak yang mungkin dirasakan anak saat mengetahui orangtuanya selingkuh.

1. Merasa diabaikan dan ditinggalkan

Meski kedua masih tinggal satu rumah, tapi kebekuan suasana yang ditimbulkan akibat masalah perselingkuhan bisa berdampak negatif pada sisi psikologis anak.

Satu hal yang paling umum adalah pengabaian dan rasa ditinggalkan.

Menurut Kimberli Friedmutter, seorang penulis buku terlaris Subconscious Power: Use Your Inner Mind to Create the Life You’ve Always Wanted, bentuk dari pengabaian ini dapat mengarah pada rasa ketidakpercayaan anak pada orangtua dan membuatnya menarik diri dari lingkungan.

2. Anak seolah punya tugas untuk menyelesaikan konflik

Entah disengaja atau tidak, anak-anak bisa merasa ingin menyelesaikan konflik yang tengah dihadapi orangtua.

Meski dalam kasus perselingkuhan ini tidak ada kaitannya dengan si anak, namun anak bisa merasakan seolah memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.

Ketika upayanya diacuhkan atau tidak membuahkan hasil, anak bisa merasa kesedihan mendalam, marah atau bahkan menutup diri.

Dori Shwirtz, seorang konselor pernikahan dan keluarga dari divorceharmony.com, orangtua perlu memastikan bahwa anak tidak memikul tanggung jawab yang berat seperti ini.

Konflik yang terjadi hanya di antara suami dan istri dan jangan melibatkan anak apapun. Bahkan jika perlu, bantu anak-anak untuk melewati masa sulit.

3. Ada sejuta pertanyaan di benak mereka

Saat mengetahui salah satu dari orangtuanya tidak setia, maka itu bisa menimbulkan sejuta pertanyaan di benaknya.

Anak-anak dapat mempertanyakan stabilitas yang mereka rasakan di rumah.

Itulah sebabnya, ketika konflik terjadi anak harus tetap merasa dicintai, dirawat bersama dan beri waktu mereka untuk berproses.

4. Perilaku selingkuh bisa menular ke anak

Menurut banyak pakar hubungan, perselingkuhan tidak hanya melukai hubungan suami-istri, tapi juga seolah menikam hati anak.

Jika anak tumbuh dewasa dalam konflik yang tidak berkesudahan, apalagi disebabkan oleh orangtua yang selingkuh.

Kondisi tersebut bisa membuatnya merasa kecewa, serta ada keinginan balas dendam dari apa yang mereka tidak bisa perbuat di masa lalu.

Bahkan kecenderungan anak saat dewasa untuk juga dua kali lebih tinggi.

“Studi menunjukkan bahwa anak-anak dari rumah tangga yang bermasalah dengan kasus selingkuh, dua kali lebih mungkin untuk tidak setia,” kata Dori Shwirtz.

5. Anak kehilangan kepercayaan

Saat melihat orangtua selingkuh, di dalam pikirannya, anak cenderung memilah mana sosok yang menjadi pelaku dan menjadi korban.

Dari hal ini anak menjadi menilai siapa yang jahat dan siapa yang baik. Kemudian kondisi tersebut membuatnya merasa kebingungan saat mengarahkan perasaan mereka.

Akibatnya, kepercayaan terhadap orangtua pun bisa menghilang dan meninggalkan luka mendalam.

Mereka bisa merasa kebingungan tentang harus percaya dengan siapa, dan harus dengan siapa mereka mencurahkan cintanya.

6. Anak menjadi depresi

Dalam posisi ini, anak selalu dikatakan menjadi korban. Ya, perselingkuhan memang membawa dampak negatif pada sisi psikologis anak dan bisa memicu .

Sebab, kebanyakan orangtua pasti lupa akan kehadiran anak ketika menghadapi pasangannya yang selingkuh.

Dalam banyak kasus, kondisi tersebut pada gilirannya membuat anak merasa diabaikan, diacuhkan, dilupakan hingga menyebabkan anak merasa stres dan depresi.

7. Merasa khawatir dengan masa depannya

Anak-anak cenderung merasa berat untuk memproses masalah orangtua yang tengah berkonflik akibat perselingkuhan.

Mereka mungkin merasakan khawatir dengan masa depannya. Entah itu soal keutuhan keluarga, perselingkuhan terjadi berulang kali hingga masalah itu akan menimpa diri mereka sendiri di masa mendatang.

Ketakutan itu bisa menimbulkan rasa yang membuatnya tidak bisa percaya diri, atau tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain.

Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk meyakinkannya bahwa masalah ini hanya terjadi pada orangtua mereka.

Yakinkan pada anak bahwa beratnya masalah perselingkuhan tidak akan mereka rasakan di kemudian hari.

8. Anak bisa mengambil hikmahnya

Jika orangtua memutuskan kembali untuk tetap bersama setelah menghadapi konflik hubungan, maka ini dapat menjadi tugas yang berat bagi orangtua.

Orangtua perlu mengajarkan bagaimana melupakan masalah tersebut agar tidak memberikan dampak negatif pada mereka.

Caranya adalah bisa melalui komunikasi yang baik, saling mengerti bahkan mengajarkan soal cinta.

Antara suami dan istri perlu memberi contoh bahwa konflik bisa diselesaikan dengan baik dan tidak membawa dampak bagi sisi emosonal dan psikologis anak.

Ketika itu sudah disadari orangtua, maka keutuhan rumah tangga setelah konflik bisa memberi pelajaran berharga bagi anak soal keluarga yang sehat dan harmonis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.