KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – Holding BUMN Pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney siap mengembangkan Kota Lama Semarang sebagai kota lama yang terintegrasi atau integrated old town.

“Kita mengembangkan Kota Lama Semarang menjadi integrated old town. Ini memang akan menjadi luar biasa,” ujar Direktur Utama InJourney Dony Oskaria dalam Indonesia Tourism Outlook 2023 di Jakarta, Rabu.

Dony menambahkan kebetulan 82 persen bangunan-bangunan lama yang berada di Kota Lama Semarang tersebut merupakan properti milik BUMN.

“Kita akan renovasi, kita jadikan sebagai sebuah attraction yang luar biasa dimana nanti ada mal, hotel, kafe, restoran, dan sebagainya, sehingga Kota Lama ini akan menjadi suatu daya tarik utama,” katanya.

Hal ini dikarenakan InJourney berfokus terhadap lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dimana Kota Lama Semarang sebagai bagian dari pengembangan kawasan Yogyakarta – Solo – Semarang atau Joglosemar yang dikembangkan dari DPSP Borobudur.

Sebelumnya Direktur Utama InJourney Dony Oskaria mengatakan rencana pengembangan Kota Lama Semarang ini berkaitan dengan upaya pengembangan heritage, mengingat budaya yang sudah mengakar kuat.

Kota Lama Semarang memiliki sejumlah kriteria unik yakni satu-satunya destinasi wisata di Indonesia yang berada di satu komplek, sehingga lebih mudah untuk melakukan penataan.

Kriteria unik lainnya adalah Kota Lama Semarang secara akses dan infrastruktur telah disiapkan oleh pemerintah daerah (pemda). Sedangkan kriteria terakhir adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sangat terlibat aktif dan memiliki badan pengelolaan Kota Lama Semarang yang menurut InJourney paling maju dibandingkan lainnya.

Kawasan Kota Lama Semarang dikenal memiliki bangunan bersejarah dengan arsitektur bergaya Eropa. Dulunya kawasan ini pernah menjadi pusat kegiatan perekonomian pada masa Hindia Belanda.

Sejak tahun 2016 Kota Lama Semarang telah masuk dalam daftar usulan untuk mendapatkan status World Heritage City UNESCO.