KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan suatu syarat yang memungkinkan Ukraina untuk meneruskan ekspor bahan pangannya. Hal ini disampaikan Putin dalam panggilan teleponnya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Pada panggilan yang berlangsung Selasa (1/11/2022) itu, Putin menyebutkan bahwa Moskow akan mempertimbangkan untuk melanjutkan kesepakatan yang memungkinkan ekspor biji-bijian dari pelabuhan Ukraina, tetapi hanya setelah mendapatkan ‘jaminan nyata’ dari Kyiv.

Pernyataan Putin ini menggarisbawahi insiden serangan drone kepada Armada Laut Hitamnya di Krimea beberapa waktu lalu. Kremlin menuduh Ukraina sebagai dalang dari kejadian ini sementara Kyiv menuduh ini merupakan dalih palsu Rusia untuk keluar dari kesepakatan.

“Rusia mencari jaminan nyata dari Kyiv tentang kepatuhan yang ketat terhadap perjanjian Istanbul, khususnya tentang tidak menggunakan koridor kemanusiaan untuk tujuan militer,” ujarnya dikutip Al Jazeera.

Kesepakatan ekspor biji-bijian antara Rusia dan Ukraina ditengahi oleh Turki dan PBB pada bulan Juli untuk meredakan krisis pangan dunia. Pasalnya, dua negara yang saat ini sedang berperang itu merupakan produsen biji-bijian utama bagi kebutuhan pangan dunia.

Kremlin mengatakan dimulainya kembali kesepakatan ekspor pangan ini mungkin dipertimbangkan hanya setelah selesainya penyelidikan atas dugaan serangan drone di pelabuhan angkatan laut Krimea Sevastopol.

“Hanya setelah itu (penyelidikan) akan mungkin untuk mempertimbangkan pertanyaan tentang melanjutkan kesepakatan.”

Sementara itu, Putin juga membeberkan kegagalan untuk untuk membuka blokir ekspor produk pertanian dan pupuk Rusia ke pasar dunia kepada Erdogan. Meski produk ini tidak terkena sanksi Barat, Rusia sangat terhambat untuk mengekspornya melalui pelabuhan di wilayah Laut Baltik.

“Produsen Rusia telah kehilangan akses ke pelabuhan Laut Baltik yang telah mereka gunakan untuk ekspor, dan saluran pipa yang membawa amonia ke pelabuhan Laut Hitam Ukraina di Pivdennyi,” tambahnya.

Sebelumnya, PBB, NATO, Uni Eropa, dan Amerika Serikat (AS) serempak mendesak Rusia membatalkan keputusannya untuk menarik diri dari kesepakatan ekspor gandum Ukraina melalui Laut Hitam.

NATO menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin mempersenjatai makanan dan mendesaknya untuk membatalkan hal tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengatakan sangat prihatin dengan penangguhan kesepakatan Rusia untuk jangka waktu tidak terbatas. Ia juga menunda keberangkatannya untuk menghadiri KTT Liga Arab di Aljazair untuk mencoba membantu menyelesaikan masalah ini.