kabinetrakyat.com – Wakil Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni angkat bicara mengenai nasib hukum orang-orang yang terlibat dalam kasus penembakan Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga , Jakarta Selatan.

Ia mengungkap bahwa Bharada E seharusnya bisa diselamatkan dari jerat hukum.

Hal ini berlandaskan pada pasal 51 KUHP mengatur bahwa orang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak boleh dipidana.

“Harusnya bisa lepas. Bisa dibersihkan namanya,” kata Sahroni seperti dikutip Pikiran-rakyat.com dari kanal YouTube Deddy Corbuzier.

Sahroni melanjutkan, sebagai ajudan, Bharada E tidak punya pilihan selain menerima perintah untuk menembak Brigadir J .

“Kalau jadi ajudan, perintah pimpinan tidak bisa ditolak,” katanya.

Sahroni menuturkan, atas kasus tersebut, keterlibatan orang-orang perlu dibagi menjadi tiga kategori.

“Saya sampaikan kepada Kapolri secara nonformal untuk dipisahkan, antara orang yang langsung terlibat, orang yang tahu tapi tidak terlibat, dan orang yang sama sekali tidak tahu tapi ikut di dalamnya,” kata Sahroni.

Menurut Sahroni, harusnya penyelidikan ini melalukan kembali cek apa yang terjadi sebenarnya.

“Harusnya para penyelidik ini melakukan double cek, apa yang terjadi sebenarnya. Harusnya mereka bisa selamat.

“Tapi, kalau dia ujungnya merusak barang perkara kejadian, itu jadi masalah. Itukan ada 2 masalahnya, dia melalaikan tugas dan membohongi seolah-olah loyalitas dilakukan atas pemerintah,” kata Sahroni.

Selain para tersangka, Kaporli Listyo Sigit Prabowo sebagai pimpinan tertinggi juga turut terseret dalam kasus ini.

Sahroni berpendapat bahwa Kapolri sebenarnya tidak bisa disalahkan.

“Semua produk yang ada ditubuh di Polri, Kapolri memang harus dapat laporan dan harus mengetahui. Tapi, problemnya sekarang kan waktu dilaporin ke Kapolri ternyata laporannya palsu.

“Begitu juga dengan Kapolri melaporkan itu ke presiden, kan sesuai laporan dari anak buah. Kena prank semua. Kan, kasihan. Gak bisa disalahin sebenernya Kapolri,” kata Sahroni.(Asri Turana Restaripani)***