kabinetrakyat.com – Playing victim adalah upaya membangun narasi sebagai korban untuk memanipulasi seseorang.

Seseorang yang melakukan playing victim ingin dianggap sebagai korban dalam suatu permasalahan, padahal, biasanya, yang terjadi adalah sebaliknya.

Oleh karena itu, perilaku ini sangatlah manipulatif, karena para pelaku memainkan emosi seseorang.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari lifehack.org id pada 8 September 2022, berikut adalah 5 tanda-tanda seseorang sedang melakukan playing victim .

1. Tidak Bertanggung Jawab

Ketika playing victim , seseorang akan menolak untuk bertanggung jawab atas keadaan yang dialaminya.

Sebaliknya, mereka menunjuk orang lain agar membuat orang lain merasa bersalah, atau mengabaikan peran mereka dalam menyelesaikan masalah.

2. Tidak Berkembang

Para pelaku play victim percaya bahwa mereka berada di bawah belas kasihan semua orang dan dunia berputar di sekitar mereka.

Biasanya, seorang korban tidak akan membuat kemajuan atau kemajuan dalam hidup mereka karena mereka merasa bahwa mereka tidak berdaya.

Sehingga hidupnya akan berada di situasi yang sama.

Ketika seseorang bertanya alasan mengapa mereka tidak berdaya, mereka akan menjawab dengan member daftar alasan mengapa mereka seperti itu untuk memanipulasi empati orang lain.

3. Sulit Bersikap Asertif

Pelaku play victim tidak benar-benar percaya bahwa mereka dapat mengendalikan hidup mereka, sehingga mereka berjuang untuk menyatakan apa yang mereka butuhkan, inginkan, atau pantas mereka dapatkan.

4. Tidak Mengerti Batasan

Mereka kesulitan membuat batasan, baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain.

Jika kamu seorang teman dari si pelaku, kamu harus menetapkan batasan dengan “korban”.

Putuskan seberapa banyak perilaku korban mereka yang ingin kamu maklumi sebelum kamu mengundurkan diri.

5. Terlalu Mengasihani Diri Sendiri

Korban memiliki kebiasaan mengasihani diri sendiri.

Mereka mencerminkan anak yang tidak berdaya yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri.

Karena orang lain biasanya tidak menunjukkan simpati atau empati kepada mereka, mereka mencoba memberikannya kepada diri mereka sendiri, hanya untuk berpotensi terlihat tidak dewasa kepada orang lain.

Ini akan membuat orang lain terjebak dengan permainannya dan membuat mereka tetap bermain sebagai korban. (Raden Roro Nabiilah Cakraningtyas)***