kabinetrakyat.comJakarta, CNBC Indonesia – Kurs rupiah sempat menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), kemudian berbalik arah menjadi melemah hingga di pertengahan perdagangan Rabu (31/8/2022). Rupiah menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang terkoreksi terhadap greenback.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terapresiasi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,03% ke 14.835/US$. Sayangnya, rupiah berbalik arah menjadi terkoreksi 0,11% ke Rp 14.857/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Secara year to date, rupiah masih terkoreksi terhadap dolar AS sebanyak 4,3%. Meski begitu, pelemahan Mata Uang Garuda masih terlampau lebih kecil dibandingkan dengan mayoritas mata uang di Asia. Rupiah menduduki urutan ketiga dengan koreksi paling sedikit di hadapan si greenback dan hanya kalah dengan dolar Hong Kong dan dolar Singapura.

Dari Negeri Paman Sam, pada Selasa (30/8), investor global disuguhkan dengan rilis data ekonomi AS yang cukup baik, di mana angka pekerjaan baru meningkat menjadi 199.000 pekerjaan. Jika ditotalkan, angka permintaan tenaga kerja meningkat menjadi 11,239 juta di Juli 2022.

Ada tambahan 81.000 lowongan pekerjaan di industri transportasi, pergudangan dan utilitas bulan lalu. Lowongan kerja meningkat 53.000 di sektor seni, hiburan dan rekreasi, sementara pemerintah federal memiliki 47.000 lebih banyak lowongan dan lokal memiliki 42.000 pekerjaan tambahan yang belum terisi, menjelang tahun ajaran baru.

Data ekonomi tersebut menunjukkan permintaan tenaga kerja tetap tumbuh, di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja atau JOLTS menilai angka tersebut diibaratkan ada dua pekerjaan untuk setiap 1 orang pengangguran di AS.

“The Fed telah melakukan pengekangan moneter tahun ini ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan ekonomi tidak memberi mereka alasan untuk menahan diri. Pasar tenaga kerja kuat seperti banteng, dua pekerjaan di luar sana untuk dipilih oleh para pengangguran,” kata Christopher Rupkey, kepala ekonom di FWDBONDS di New York dikutip Reuters.

Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) AS per Juli 2022 pulih ke 103,2 dari 95,3 pada Juli 2022 dan mengakhiri penurunan selama tiga bulan beruntun. Angka tersebut melampaui ekspektasi analis di 97,7. Tidak hanya itu, ekspektasi inflasi konsumen selama 12 bulan ke depan juga turun menjadi 7% dari 7,4% di Juli 2022.

Namun, data ekonomi yang solid membuat kekhawatiran pasar meningkat bahwa The Fed akan lebih agresif untuk menaikkan suku bunga acuannya di September 2022.

“Pasar akan salah membaca laporan ini sebagai indikasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga lebih dari yang diharapkan,” kata Direktur Harris Financial Group Jamie Cox.

Meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan lebih banyak membuat imbal hasil (yield) obligasi AS naik.

Pada Selasa (30/8), yield obligasi tenor 10 tahun yang biasanya dijadikan acuan, terkerek naik di 3,108% dan menjadi posisi tertinggi sejak akhir Juni 2022. Sementara yield obligasi tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga acuan, naik ke 3,466% dan menjadi level tertinggi baru dalam 15 tahun.

Hal tersebut juga mengindikasikan adanya kurva imbal hasil yang terbalik antara tenor jangka pendek dengan jangka panjang, yang menjadi indikator bahwa ekonomi AS akan kembali mengalami resesi pada 6 hingga 12 bulan mendatang.

Akibatnya, ketika situasi ekonomi global mengalami gangguan, maka investor cenderung beralih pada aset yang minim risiko seperti mata uang safe haven. Salah satu mata uang yang mempunyai nilai lindung yakni, dolar AS.

Permintaan akan dolar AS cenderung stabil, yang tercermin pada laju pergerakan dolar AS dari awal pekan ini yang stabil berada di level 108 dan di bawah rekor tertinggi dua dekadenya di 109,29 pada Juli 2022. Pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS melemah tipis 0,09% ke posisi 108,67.

Bahkan, analis memprediksikan dolar AS akan mencapai level 110, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya.

“Menurut saya untuk pekan ini, indeks dolar AS akan menuju level lebih tinggi hingga ke 110 karena pelaku pasar terus mempertimbangkan siklus pengetatan yang lebih agresif dari The Fed,” tutur Ahli Strategi Mata Uang dan Ekonomi Commonwealth Bank of Australia dikutip Reuters.

Laju dolar AS di pasar spot, nyatanya masih memberikan ruang untuk penguatan mayoritas mata uang di Asia. Dolar Taiwan menjadi pemimpin penguatan mata uang di Asia, di mana berhasil terapresiasi 0,46% dan ringgit Malaysia menguat 0,31% terhadap dolar AS.

Namun, rupiah menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang terkoreksi terhadap dolar AS hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA