kabinetrakyat.com – Sumatera Utara (Sumut) harus melakukan impor bawang putih dari Singapura senilai Rp 35 miliar – Rp 70 miliar per tahunnya.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengungkapkan impor harus dilakukan karena produksi bawang putih baru 2,7%, jauh dari kebutuhan masyarakat di daerahnya.

Namun, dia mengaku heran karena impor yang dilakukan daerahnya diambil dari Singapura.

“Lucunya saya impor bawang putih dari Singapura, saya tidak tahu Singapura tanam bawang dimana,” ungkap Edy dalam Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, di Sumatera Utara, Rabu (31/8/2022).

Menurutnya, impor bawang putih harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Sejauh ini, Edy mengungkapkan masyarakat di Sumatera Utara cenderung menanam beras, bawang merah dan cabai merah. Bawang putih hanya ditanam per rumah tangga.

Saat ini, Sumatera Utara sebenarnya sedang menyiapkan food estate yang didukung oleh pemerintah pusat. Lokasinya terletak di Humbang Hasidutan.

“Ini masih perlu kita kaji, saya perlu bicara dengan bapak Bupati Dairi,” katanya.

Terkait dengan cabai merah dan bawang merah, Edy juga kaget mendengar data yang diberikan Menteri Dalam Negeri, bahwa kedua komoditas tersebut telah menyebabkan inflasi di Sumatera Utara menyentuh 5,65% pada Juli 2022.

Padahal, dari data pemerintah provinsi, produksi cabai merah dan bawang merah selalu surplus. Setelah diusut, dia melihat banyak produksi cabai dan bawang merah yang dikirim ke provinsi lain tanpa terkendali, sehingga daerahnya mengalami kekurangan pasokan.

Ke depannya, Edy mengungkapkan bahwa produksi cabai merah dan bawang merah akan diserap oleh BUMD sehingga harga dan pasokan bisa dikendalikan.