kabinetrakyat.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Ahmad Sahroni menanggapi isu kelainan seksual dalam kasus pembunuhan Brigadir J yang melibatkan Ferdy Sambo .

Sempat merebak kabar terkait kelainan seksual yang dialami oleh mantan Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo , Ahmad Sahroni menilai bahwa isu LGBT tersebut hanyalah sebuah opini publik.

“Kalau ngomong masalah LGBT kan ritual kegiatan orang-orang pasti berbeda-beda, nah kita tidak bisa menafsirkan atas pengakuan yang bersangkutan dia adalah melakukan pelecehan,” kata Sahroni, dilansir Pikiran-rakyat.com dari kanal YouTube Deddy Corbuzier.

“( LGBT ) itu opini, narasi masyarakat dengan asumsinya sendiri,” lanjut Sahroni.

Sahroni bahkan menyayangkan perlakukan Ferdy Sambo yang membunuh Brigadir J dengan alasan pelecehan seksual.

“Makanya yang jadi pertanyaan, kenapa musti mematikan orang karena ada aspek misalnya yang tadi atas pengakuan pelecehan. Itu sangat disayangi sih, kenapa musti mematikan orang,” kata Sahroni.

Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka oleh Kapolri, dan baru-baru ini melangsungkan Sidang Kode Etik Profesi Polri (KEPP) pada Kamis, 25 Agustus 2022.

Dalam sidang tersebut Ferdy Sambo resmi dipecat secara tidak hormat dari institusi Polri. Namun, mantan Kadiv Propam itu mengajukan banding atas sanksi yang dijatuhkan kepada dirinya.

Sahroni pun menanggapi keputusan yang diambil oleh Ferdy Sambo usai dipecat secara tidak hormat dari Instansi Polri, dan meyakini bahwa pengajuan banding mantan Kadiv Propam itu akan ditolak.

“Itu ada haknya, seseorang memiliki hak untuk mengajukan banding. Tapi saya meyakini bandingnya pasti ditolak,” ujarnya.

Menurutnya, pengajuan banding setelah menghilangkan nyawa seseorang tidak akan mungkin diterima atau disetujui.

Berdasarkan informasi yang diberikan, Sahroni mengatakan Ferdy Sambo mengakui bahwa dirinya yang menembak Brigadir J hingga tewas.

“Atas pengakuan yang bersangkutan dia mengakui bahwa dia yang menembak, Sambo,” tambahnya.

Dia memaparkan kejadian penembakan terhadap Brigadir J yang melibatkan Ferdy Sambo dilakukan dari bagian belakang Nofriansyah Yosua Hutabarat hingga membuatnya tewas.***