kabinetrakyat.comJakarta, CNBC Indonesia – Dolar Singapura dan dolar Australia kompak menguat melawan rupiah pada perdagangan Rabu (31/8/2022). Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar membuat rupiah sulit menguat.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 13:13 WIB dolar Singapura menguat 0,16% ke Rp 10.630/SG$, sementara dolar Australia melesat 0,62% ke Rp 10.228/AU$ di pasar spot.

Pemerintah memastikan harga bensin subsidi jenis Pertalite dan Solar akan mengalami kenaikan.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menjawab pertanyaan di forum RSIS Distinguished Public Lecture: Indonesia, Singapore, ASEAN and The New Lansdscape, seperti dikutip Selasa (30/8/2022).

“Jadi kami sekarang berencana untuk menyesuaikan harga [BBM],” kata Airlangga dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan.

“Dan kami telah mengeluarkan, juga untuk mendukung kemampuan dan warga yang membutuhkan, jaminan sosial. Jadi kita merilis program untuk jaminan sosial dan ketika sebanyak 40% warga yang membutuhkan dukungan telah didukung, kami akan menyesuaikan harga dari minyak,” jelasnya.

Informasi yang diterima oleh CNBC Indonesia, kenaikan harga BBM Pertalite dan Solar Subsidi ini akan diumumkan pada hari ini, dan harga baru kedua BBM tersebut akan berlaku pada 1 September 2022 ini.

Sumber tersebut juga mengatakan kemungkinan kenaikan harga BBM Pertalite di SPBU Pertamina masih akan berada di bawah Rp 10.000 per liter dengan range kenaikan Rp 1.000 sampai Rp 2.500 dari harga yang saat ini Rp 7.650 per liter.

“Kemungkinan di bawah Rp 10.000/liter,” kata sumber tersebut.

Namun, hingga siang ini masih belum ada pengumuman. Pasar masih wait and see.

Kenaikan harga Pertalite dan Solar bisa memicu kenaikan inflasi, yang tentunya berdampak negatif bagi rupiah. Semakin tinggi inflasi, nilai mata uang akan semakin tergerus.

TIM RISET CNBC INDONESIA