kabinetrakyat.com – Memburuknya situasi global bukan hanya berkaitan dengan ekonomi dan keamanan, melainkan juga perubahan iklim dalam bentuk bencana kekeringan yang masif di berbagai benua. Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo pun buka suara mengenai potensi memburuknya situasi global.

Ia menilai semua perlu waspada dalam pengelolaan pangan, termasuk dalam jalur distribusi atau transportasi. Pasalnya, ketika stok pangan satu negara terbatas, maka diperlukan tata kelola transportasi yang baik dalam pengirimannya.

“Sekarang makin penting karena menghadapi climate change dunia, Sungai Rhein saja di Jerman kemarin susut sampai 30%. Data beberapa Menteri di G20, Italia danaunya kering. Karena itu kita nggak boleh salah mengaturnya,” katanya dalam Program Spesial Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, CNBC Indonesia (Rabu, 07/09/2022).

Pemanasan iklim memang menjadi isu penting selain gejolak geopolitik dunia. Selain Eropa, daratan Asia seperti China juga menghadapi masalah serupa. Otoritas China menyatakan bulan Agustus lalu sebagai bulan terpanas.

Hal ini dipicu oleh gelombang panas yang mengakibatkan sumber air di negara itu mengering. Tingginya suhu udara paling banyak dilaporkan di wilayah China Selatan seperti provinsi Sichuan dan kota besar Chongqing. Tercatat, suhu di wilayah itu mencapai 40C hingga 45C.

“Suhu rata-rata nasional adalah 22,4C pada Agustus, melebihi norma 1,2 C. Sekitar 267 stasiun cuaca di seluruh negeri menyamai atau memecahkan rekor suhu pada bulan lalu,” lapor penyiar CCTV, mengutip layanan cuaca negara itu, yang dilansir AFP, Rabu, (7/9/2022).

Para ahli mengatakan tingginya suhu ini mungkin merupakan salah satu gelombang panas terburuk dalam sejarah global. Fenomena ini akan menjadi lebih sering sebagai dampak perubahan iklim yang diakibatkan polusi yang ditimbulkan manusia.

Gambar dari Chongqing menunjukkan anak sungai dari sungai Yangtze hampir mengering. Selain itu, pemandangan bergema lebih jauh ke Timur di mana air danau air tawar terbesar di China juga surut secara ekstensif.

Sementara Eropa telah berada di ambang malapetaka karena serangkaian gelombang panas sejak Mei dan kurangnya curah hujan yang parah. Kedua hal ini membawa sungai-sungai besar di Eropa kering. Ini setidaknya terjadi di Prancis dan Italia.

Di Prancis, Sungai Loire terlihat permukaannya dan menyebabkan manusia bisa menyeberang, berjalan kaki, dengan mudah di beberapa tempat. Bukan hanya itu, kejadian yang sama juga terjadi di Sungai Rhine, Jerman dan Sungai Po Italia.

Rhine, sungai terpanjang dan terpenting di Eropa, terancam menutup lalu lintas komersial. Perlu diketahui, sungai sepanjang 1.320 km itu menghubungkan pelabuhan utama Rotterdam di Belanda melalui jantung industri Jerman dan lebih jauh ke selatan ke Swiss yang terkurung daratan.

Kami belum pernah melihat tingkat kekeringan ini dalam waktu yang sangat lama,” kata analis senior Eropa dan kebijakan iklim di The Economist Intelligence Unit, Matthew Oxenford, dikutip CNBC International.