kabinetrakyat.comPIKIRAN RAKYAT- Pada akhir tahun 1980-an, pemimpin Soviet yang terakhir, Mikhail Gorbachev , mencoba merestrukturisasi negara yang dipimpinnya melalui kebijakan glasnost dan perestroika.

Tetapi hal itu malah justru memicu perpecahan di Uni Soviet yang akhirnya secara resmi bubar pada tanggal 26 Desember 1991 setelah gagalnya percobaan kudeta.

Meski mendapat pujian dari pihak Barat, Mikhail Gorbachev adalah sosok tragis yang gagal dalam misi bersejarah yang ditetapkan untuk negaranya sendiri.

Penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian 1990 menandai puncak pengakuan dunia atas peran yang dimainkan Mikhail Gorbachev .

Mikhail Gorbachev di masa itu berhasil mengakhiri Perang Dingin yang terjadi tanpa adanya pertumpahan darah.

Namun namanya tak seindah di luar sana, di negerinya sendiri Mikhail Gorbachev terkuras dan kalah ia dipaksa mundur.

Mikhail Gorbachev direduksi menjadi pemimpin negara yang tidak ada saat Uni Republik Sosialis Soviet runtuh menjadi 15 negara bagian yang terpisah.

Pada Selasa, 30 Agustus 2022 kemarin, Mikhail Gorbachev dilaporkan meninggal dunia.

Sebelum kematiannya ia telah berangkat untuk merevitalisasi sistem Komunis yang hampir mati.

Kemudian membentuk serikat baru berdasarkan kemitraan yang lebih setara antara 15 republik, di mana dua yang paling kuat adalah Rusia dan Ukraina.

Namun dalam waktu enam tahun, baik Komunisme maupun Persatuan runtuh. Dengan melihat ke belakang, beberapa kesalahannya jelas terlihat.

Dia mencoba reformasi politik dan ekonomi secara bersamaan dan pada skala yang terlalu ambisius, melepaskan kekuatan yang tidak bisa dia kendalikan.

Itu adalah pelajaran yang tidak hilang dari para pemimpin China, yang menganut ekonomi pasar tetapi memberi tahu tentang pembunuhan pengunjuk rasa tahun 1989 di Lapangan Tiananmen.

Hal itu terlihat jelas bahwa mereka akan bertindak kejam untuk mempertahankan cengkeraman kekuasaan Partai Komunis.***