kabinetrakyat.comJakarta, CNBC Indonesia – Kinerja pemilik gerai ritel Alfamart dan Indomaret, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur International Tbk (DNET), naik tinggi pada semester I 2022. Namun pertumbuhan kinerja pemilik Indomaret jauh menggunguli pemilik Alfamart.

Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih pemilik Indomaret tercatat tumbuh 120,83% menjadi Rp 645 miliar pada semester I-2022. Pada periode yang sama tahun lalu, laba Indoritel tercatat senilai Rp 288,25 miliar.

Indoritel berhasil mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 469,74 miliar, naik 46,7% dari periode Desember 2021 yakni sebesar Rp 320,24 miliar.

Sementara itu, bagian laba dari entitas asosiasi perseroan juga tercatat meningkat signifikan dari Rp 288,25 miliar di kuartal II-2021, menjadi Rp 654,33 miliar di Desember 2021.

Dengan kinerja pendapatan tersebut, emiten bersandi saham DNET ini mampu mencatatkan peningkatan laba usaha 112,9% menjadi Rp 651,18 miliar, dari Rp 306,32 miliar pada Desember 2021.

Hingga akhir Juni 2022, total aset perseroan tercatat meningkat menjadi Rp 18,3 triliun, dari Rp 18 triliun di akhir Desember 2021.

Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat turun dari Rp 6,82 triliun menjadi Rp 6,57 triliun di 30 Juni 2022. Sementara itu, total ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp11,7 triliun di kuartal II-2022, dari Rp 11,2 triliun pada Desember 2021.

Indoritel Makmur Internasional (DNET) ini memiliki lebih dari 19 ribu gerai yang tersebar hingga pelosok negeri. Indomaret adalah salah satu pemimpin utama duopoli minimarket di Indonesia. Didirikan sejak tahun 1988.

Kinerja keuangan DNET, yang sejak berganti nama dan fokus di industri ritel tidak pernah mengalami kerugian.

DNET yang tergabung dalam Grup Salim diketahui merupakan pemegang saham terbesar di Indomaret yang mencapai 40%. Selain di Indomaret, DNET juga menggenggam saham di perusahaan ritel lain, yakni pada Fast Food Indonesia (FAST) selaku pengelola gerai KCF dan Nippon Indosari Corpindo (ROTI), produsen Sari Roti.

Sementara itu, Sumber Alfaria membukkan laba Rp 1,27 triliun naik 46,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 876,22 miliar.

Mengutip laporan keuangan perseroan yang tidak diaudit pada kuartal II-2022, pendapatan AMRT naik 13,9% menjadi Rp 47,89 triliun, dari sebelumnya Rp 42,03 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban pokok pendapatan perseroan juga naik sebesar 13,4% menjadi Rp 37,95 triliun pada kuartal II-2022, dari sebelumnya pada kuartal II-2021 sebesar Rp 33,46 triliun.

Dengan ini, laba bruto perseroan naik 15,9% menjadi Rp 9,93 triliun di enam bulan pertama tahun 2022. Adapun laba bersih tahun berjalan AMRT lompat menjadi Rp 1,28 triliun pada kuartal II-2022, dari periode sebelumnya sebesar Rp 876,23 miliar.

Sementara dari sisi neraca atau top line, total aset AMRT bertambah 5,1% menjadi Rp 28,9 triliun di kuartal II-2022, dari sebelumnya sebesar Rp 27,49 triliun di Desember 2021

Sedangkan liabilitas perseroan juga naik sebesar 4,9% menjadi Rp 19,42 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp 18,5 triliun. Sementara untuk ekuitas perseroan kuartal II-2022 meningkat sebesar 5,6% menjadi Rp 9,48 triliun, dari sebesar Rp 8,98 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA