KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pada sesi perdagangan Kamis (13/10/2022) dibuka menguat. Apresiasi ini terjadi seiring dengan terkoreksinya indeks dollar AS.

Mengacu kepada data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka pada level Rp 15.348 per dollar AS, menguat dibanding posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.357 per dollar AS.

Setelah dibuka menguat, mata uang Garuda sebenarnya sempat melemah dan bergerak di zona negatif. Namun tidak berselang lama kembali menguat, di mana pada pukul 10.45 WIB nilai tukar rupiah menguat 0,06 persen ke Rp 15.348 per dollar AS.

Penguatan rupiah terjadi seiring dengan merosotnya indeks dollar AS. Data Investing menunjukan, indeks dollar AS dibuka melemah ke level 113,17 pada perdagangan hari ini.

Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah mungkin masih berpeluang menguat hari ini terhadap dollar AS. Sentimen positif terhadap rupiah kali ini datang dari notulen rapat bank sentral AS, The Federal Reserve.

“Menunjukkan bahwa para petinggi The Fed menginginkan pengambilan keputusan pengetatan moneter mempertimbangkan risiko pelambatan ekonomi AS,” kata dia, kepada Kompas.com, Kamis.

Menurutnya, hal tersebut menjadi sinyal penurunan intensitas pengetatan kebijakan moneter bank sentral. Ini kemudian membuat indeks dollar AS terkoreksi, dan mendongkrak nilai tukar rupiah.

Bukan hanya rupiah, sentimen tersebut turut mendongkrak mata uang Asia lain. Sejumlah mata uang Asia terpantau menguat terhadap dollar AS, mulai dari yen Jepang (0,08 persen), dollar Singapura (0,11 persen), peso Filipina (0,05 persen), rupee India (0,01 persen), hingga baht Thailand (0,07 persen).

Namun demikian, Ariston bilang, pasar masih menunggu data inflasi konsumen AS nanti. Hasil inflasi yang lebih tinggi dari proyeksi 8,1 persen bisa mendorong penguatan dollar AS lagi terhadap nilai tukar lainnya.

Di sisi lain, beberapa sentimen negatif terkait potensi resesi masih memberikan tekanan ke aset berisiko termasuk rupiah, seperti pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF, perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut, hingga inflasi global.

“Kondisi tersebut memberi peluang pelemahan rupiah kembali,” ucap Ariston.