KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – Sebuah konten TikTok viral menampilkan anak perempuan yang menangis karena koleksi album Kpop miliknya dibakar ayahnya.

Gadis remaja asal Malaysia itu tertegun ketika mendapati barang yang disukainya itu sudah menjadi abu.

Video yang juga beredar di Twitter itu lalu menuai kritikan netizen yang menganggap sikap orangtuanya kejam dan tak menghargai kesukaan anaknya.

Kondisi ini tentunya tak asing bagi sebagian besar dari kita ketika orangtua pernah tidak menyetujui hobi dan minat di masa kecil.

Sebaliknya, banyak orangtua juga bingung merespon obsesi anaknya yang dianggap berlebihan dan tak berguna kepada selebritas seperti para idol Kpop .

Orangtua tak perlu berlebihan merespon obsesi anak

Para idol Kpop seperti Blackpink maupun BTS sukses menjaring penggemar hingga remaja dan anak-anak.

Rasa suka ini lantas membuat mereka kerap memutar lagunya berulang kali, nonton video di Youtube dan menikmati berbagai kontennya di media sosial.

Banyak juga penggemar cilik yang rela menghabiskan uang, waktu dan tenaga untuk mengoleksi berbagai merchandise artis yang bersangkutan.

Namun orangtua tak perlu khawatir karena ini sebenarnya bukan hal yang baru dan tergolong normal.

“Adalah normal untuk mengagumi orang, dan setiap anak memiliki ini sampai tingkat tertentu,” jelas Dr. Timothy Legg, N.P.P., praktisi perawat kesehatan mental psikiatri keluarga bersertifikat.

“Selebriti sukses dan mendunia, dan anak-anak tidak selalu mengerti bahwa itu sinematik.”

Jika anak kecil cenderung terobsesi dengan superhero atau karakter kartun maka penyanyi atau bintang film adalah objek favorit anak remaja .

“Berpakaian seperti selebriti dan mengubah gaya rambut Anda agar terlihat seperti selebriti adalah bagian normal dari mencoba identitas yang berbeda dan mencari tahu siapa Anda,” kata Dr. Legg.

Tergabung dalam fandom tertentu, menghapal lagu hingga kesukaan idolanya dan menghabiskan banyak waktu untuk nonton dan membicarkan selebritas favoritnya dianggap masih dalam batasan wajar.

Ia menilai perilaku tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan selama tidak menganggu kehidupan sehari-hari.

Tanda obsesi anak pada idol Kpop sudah berlebihan

Anak yang malas mengerjakan tugasnya karena asyik nonton video konser artis favoritnya atau berjam-jam membicarakan idolanya masih tergolong tindakan yang wajar.

Kesukaan anak pada idol Kpop favoritnya baru bisa dianggai obsesi yang membahayakan jika memenuhi kriteria gangguan obsesif-kompulsif.

“Pertanyaannya adalah seberapa luas penyebarannya,” kata Dr. Legg.

Kita harus mencermati apakah kesukaan anak kemudian mengganggu fungsinya sehari-hari dan berdampak buruk pada kehidupannya.

“Jika tugas sekolah anak terlupakan dan mereka kehilangan semua temannya demi duduk di kamar sepanjang hari terpaku pada layar komputer menonton konser, Anda harus menghubungi seorang profesional untuk evaluasi,” sarannya.

Namun jika anak hanya menghabiskan waktu satu hari dalam sepekan untuk maraton konser atau video klip idolanya maka itu tidak mengkhawatirkan.

Obsesi anak juga bisa dianggap berlebihan jika buah hati mengalami depresi atau muncul keinginan bunuh diri karena artis idolanya itu.

Demikian pula jika anak benar-benar percaya jika idolanya itu mengenal mereka secara pribadi dan membalas rasa cintanya, itu bisa jadi tanda kesulitan membedakan antara fantasi dan kenyataan.

Jika orangtua tidak menyukai sosok idola anak

Kadangkala orangtua tidak setuju dengan perilaku anak karena tidak menyukai artis yang diidolakannya.

Dr. Legg mengungkapkan jika orangtua secara umum akan selalu mempertanyakan perilaku selebritas pada umumnya.

Jadi dianjurkan untuk bicara lebih jauh kepada anak agar kita bisa memahami rasa suka mereka.

“Orang tua harus bertanya apa alasannya. Diskusikan kekhawatiran Anda dengan anak-anak Anda, tetapi dengan cara yang tidak mengancam,” sarannya.

Kebanyakan anak remaja sebenarnya sadar jika perilaku idol favorit mereka bukan hal yang bisa diaplikasikannya di kehidupannya.

Sebaliknya, orangtua bisa memanfaatkan obsesi anak menjadi hal yang lebih positif dan bermanfaat.

Misalnya menawarkan membelikan tiket konser dengan syarat nilai sekolah yang lebih baik atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Hal ini bisa menjadi motivasi anak sekaligus menunjukkan jika kita mendukung mereka.

“Gunakan untuk keuntungan Anda,” saran Dr. Legg.

“Orang tua tidak boleh langsung bereaksi negatif, karena Anda bisa menggunakan ini sebagai alat negosiasi.”