kabinetrakyat.com – Inflasi adalah istilah yang sudah tidak asing lagi di kehidupan sehari-hari lantaran kerap disebut dalam berbagai kesempatan.

Meski demikian, bisa jadi masih banyak yang bertanya-tanya mengenai arti inflasi . Terlebih, terdapat sejumlah dampak inflasi yang bisa mempengaruhi keseharian, secara langsung atau tidak langsung.

Lantas, apa itu inflasi ? Apa saja penyebab inflasi ?

Artikel ini akan mencoba menjawab sederet pertanyaan tersebut dengan menyajikan ulasan mengenai inflasi, yang dirangkum dari berbagai sumber pada Rabu (31/8/2022).

Definisi inflasi

Bank Indonesia (BI) menyebut, inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus.

Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang sebagai dampak inflasi.

Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Lebih lanjut, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mendefinisikan inflasi sebagai tingkat kenaikan harga selama periode waktu tertentu.

Inflasi biasanya merupakan ukuran yang luas, seperti kenaikan harga secara keseluruhan atau kenaikan biaya hidup di suatu negara.

Meski begitu, IMF menegaskan, inflasi bisa juga dihitung secara lebih sempit untuk barang tertentu seperti makanan, atau untuk jasa seperti potong rambut.

Apa pun konteksnya, inflasi menunjukkan betapa mahalnya sekumpulan barang dan/atau jasa yang relevan selama periode tertentu.

Itulah rangkuman yang bisa dipakai sebagai penjelasan atau jawaban menurut beberapa sumber atas pertanyaan apa itu inflasi.

Faktor-faktor penyebab inflasi

BI menyebut, inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi.

Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah, dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Sedangkan faktor penyebab demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya.

Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.

Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut dapat bersifat adaptif atau forward looking.

Lebih lanjut, IMF menjelaskan bahwa penyebab inflasi tinggi yang berkepanjangan seringkali merupakan hasil dari kebijakan moneter yang longgar.

Jika jumlah uang beredar tumbuh terlalu besar terhadap ukuran perekonomian, nilai unit mata uang berkurang. Dengan kata lain, daya belinya turun dan harga naik.

Hubungan antara jumlah uang beredar dan ukuran perekonomian ini disebut teori kuantitas uang dan merupakan salah satu hipotesis tertua dalam ilmu ekonomi.

Dampak inflasi

Menurut BI, inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Selain itu, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan.

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Sejalan dengan itu, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Adapun IMF meyebut, dalam lingkungan inflasi, kenaikan harga yang tidak merata pasti mengurangi daya beli beberapa konsumen, dan erosi pendapatan riil ini adalah satu-satunya biaya inflasi terbesar.

Akibat lain inflasi adalah juga dapat mendistorsi daya beli dari waktu ke waktu bagi penerima dan pembayar suku bunga tetap.

Misalnya, pensiunan yang menerima kenaikan uang pensiun tahunan tetap 5 persen. Jika inflasi lebih tinggi dari 5 persen, daya beli pensiunan turun.

Itulah ulasan mengenai apa itu inflasi, lengkap dengan beberapa penyebab hingga dampak inflasi. Sebagai pengingat, inflasi adalah kebalikan dari deflasi.