Perusahaan Raksasa China, Tsingshan Group, Memulai Produksi Smelter Nikel di Indonesia

Perusahaan Raksasa China, Tsingshan Group, Memulai Produksi Smelter Nikel di Indonesia

Perusahaan Raksasa China, Tsingshan Group, Memulai Produksi Smelter Nikel di Indonesia dengan Kapasitas 50 Ribu Ton

 

Perusahaan China yang berpengaruh, Tsingshan Group, telah memulai operasional smelter nikel berkapasitas 50 ribu ton di Indonesia. Langkah ini menjadi topik pembicaraan karena dampaknya pada industri nikel global. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang langkah Tsingshan ini dan implikasinya.

Tsingshan Group Adalah Nama Terkenal di Industri Nikel

  • Profil Tsingshan Group: Tsingshan Group adalah perusahaan besar yang memiliki kehadiran global, terutama di industri nikel.
  • Operasional di Indonesia: Mereka telah beroperasi di Indonesia, tepatnya di Morowali, Sulawesi Tengah, untuk produksi nikel secara komersial.

Mengapa Ini Penting?

  • Kapasitas Produksi yang Luar Biasa: Dengan kapasitas produksi 50 ribu ton, Tsingshan berpotensi menjadi pemain besar di pasar nikel global.
  • Dampak pada Harga: Produksi yang besar dapat mempengaruhi harga nikel di pasar global.

Rencana dan Target Produksi

  • Pengumuman Tanpa Komentar Resmi: Saat ini, Tsingshan belum memberikan komentar resmi terkait produksi nikel ini.
  • Target Produksi: Mereka berambisi untuk mencapai 50 ribu ton hingga akhir tahun.

Ambisi di Pasar Global

  • Registrasi di London Metal Exchange (LME): Tsingshan berencana untuk mengajukan permohonan agar nikel yang mereka produksi dapat terdaftar sebagai merek yang dapat dikirim di LME.
  • Pengalaman Sebelumnya: Anak perusahaan Tsingshan, Zhejiang Huayou Cobalt Co, telah berhasil mendaftarkan nikelnya di LME sebelumnya.

Tren Industri

  • Pendaftaran Merek Lainnya: Berbagai produsen nikel China lainnya juga berencana untuk mendaftarkan merek nikel mereka di LME.
  • Pengaruh Krisis 2022: Krisis nikel tahun 2022 mempengaruhi pasar, memaksa LME untuk mengambil tindakan drastis.

Dampak pada Pasar

Volatilitas Harga: Harga LME naik secara signifikan dalam waktu singkat pada Maret 2022, memicu volatilitas harga nikel.

Pertama Kalinya dalam Sejarah: LME bahkan menghentikan perdagangan nikel untuk pertama kalinya sejak 1988.

Kesimpulan

Dengan Tsingshan Group yang memulai produksi smelter nikel dengan kapasitas besar di Indonesia, pasar nikel global berpotensi mengalami perubahan besar. Ini adalah langkah ambisius yang akan mempengaruhi industri nikel di seluruh dunia.

Baca juga

Pos terkait