Kenaikan Harga Gas Bumi Dampak Signifikan Bagi Sektor Industri di Indonesia

Industri di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam bentuk rencana kenaikan harga gas bumi, yang dijadwalkan akan berlaku mulai 1 Oktober 2023. Rencana ini telah menciptakan gelombang keberatan yang signifikan di kalangan sektor industri, yang bergantung pada gas bumi sebagai bahan utama dalam proses produksi mereka. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi dampak dari kenaikan harga gas bumi ini pada berbagai sektor industri di Indonesia dan mengapa keberatan terhadap rencana ini sangat kuat.

1. Mengapa Kenaikan Harga Gas Bumi Menjadi Isu Sensitif?

Sebelum kita memahami dampak kenaikan harga gas bumi, penting untuk memahami mengapa rencana ini menjadi isu yang sangat sensitif bagi sektor industri. Kenaikan harga gas bumi di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya pasca pandemi Covid-19 membuat banyak orang bertanya-tanya.

 Ketergantungan Sektor Industri Terhadap Gas Bumi

Hampir semua sektor industri bergantung pada gas bumi sebagai bahan utama. Hal ini termasuk industri manufaktur (mamin), Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), serta industri ilmate.

 Dampak Pada Daya Saing Sektor Industri

Kenaikan harga gas bumi dapat mengurangi daya saing sektor industri, terutama yang menggunakan gas sebagai bahan baku utama. Sektor seperti industri kaca dan keramik, serta pupuk dan petrokimia, akan terkena dampak yang signifikan.

2. Pandangan Asosiasi dan Industri

Para asosiasi industri telah secara aktif menyuarakan keberatan mereka terhadap rencana kenaikan harga gas bumi ini. Mereka memiliki beberapa argumen yang kuat.

 Dukungan Terhadap Kebijakan, Tetapi…

Sekretaris Jenderal Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Rudy Ramadhan, menyatakan bahwa industri mendukung prinsip kenaikan harga gas industri. Namun, dia menekankan bahwa tarif kenaikan yang mencapai 30-70 persen dari harga sekarang terlalu tinggi.

Harapan Kenaikan Harga Yang Berjenjang

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo), Iwan Lukito, mengungkapkan harapan industri agar kenaikan harga gas bumi bersifat berjenjang, bukan loncatan tajam. Hal ini akan memberikan industri lebih banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan biaya yang lebih tinggi.

3. Dampak Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Kenaikan harga gas bumi juga dapat memiliki dampak yang lebih luas pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika industri, yang menjadi tulang punggung ekonomi, menghadapi kendala biaya produksi yang lebih tinggi, ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

kesimpulan

Kenaikan harga gas bumi untuk industri non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) adalah isu yang memicu keberatan serius dari sektor industri di Indonesia. Meskipun ada dukungan untuk prinsip kenaikan harga, para pemangku kepentingan berharap agar pemerintah mempertimbangkan tarif kenaikan yang lebih wajar dan berjenjang. Pemerintah perlu memahami bahwa sektor industri adalah tulang punggung ekonomi, dan kebijakan harus mendukung pertumbuhan mereka.

Baca juga J&T Express Sukses Menggelar Festival “J&T Connect Fest” di Ecopark Ancol