KabinetRakyat.com

Berita Rakyat Untuk Membangun Bangsa!

kabinetrakyat.com – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan mendadak ke Yordania untuk bertemu dengan Raja Abdullah II . Apa yang dibahas kedua pemimpin dalam pertemuan itu?

Seperti dilansir Reuters, Rabu (25/1/2023), kunjungan mendadak Netanyahu ke Yordania pada Selasa (24/1) itu dilakukan setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan kunjungan kontroversial ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga bagi umat Muslim setelah Mekah dan Madinah di Arab Saudi. Sementara umat Yahudi mensakralkannya sebagai Temple Mount.

Kunjungan yang dilakukan dengan pengamanan ketat beberapa waktu lalu itu memicu kemarahan Palestina dan menuai kecaman negara-negara Arab.

Kerajaan Yordania dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu, Raja Abdullah menekankan kepada Netanyahu bahwa Israel harus menghormati ‘status quo historis dan sah di Masjid Al-Aqsa dan tidak melanggarnya’.

Raja Abdullah, yang bersitegang dengan Netanyahu selama masa jabatan terakhirnya sebagai PM, disebut juga memberitahu pemimpin Israel itu bahwa diakhirinya kekerasan sangat penting untuk memungkinkan perundingan damai yang sejak lama terhenti untuk dilanjutkan antara Palestina dan Israel.

Kunjungan ke Yordania itu menjadi kunjungan luar negeri pertama Netanyahu sejak menjabat kembali sebagai PM Israel bulan lalu.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Saksikan juga ‘Lautan Warga Israel Desak PM Netanyahu Mundur, Bendera Palestina Berkibar’:

Kantor Netanyahu dalam pernyataan terpisah menyebut kedua pemimpin membahas isu-isu regional, terutama soal kerja sama strategis, keamanan dan ekonomi antara Israel dan Yordania.

Yerusalem menjadi isu sensitif bagi keluarga Kerajaan Yordania, yang merupakan penjaga bagi situs-situs suci umat Muslim dan Kristen di bagian timur kota itu.

Kerajaan Yordania mengkhawatirkan langkah-langkah provokatif oleh kelompok ultra-kanan Yahudi yang berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsa. Kalangan nasionalis Yahudi semakin sering mengunjungi situs suci itu dan menuntut hak bagi umat Yahudi untuk bisa berdoa di kompleks tersebut.

Yordania menilai tuntutan itu merusak pengaturan di mana umat Yahudi dan non-Muslim boleh berkunjung, namun dilarang berdoa di sana. Pengaturan itu telah diberlakukan selama bertahun-tahun.